Berita

Melihat Sisi Lain MBG, Menghidupkan Ekonomi Kerakyatan di Balik Kepulan Uap Pabrik Tahu

×

Melihat Sisi Lain MBG, Menghidupkan Ekonomi Kerakyatan di Balik Kepulan Uap Pabrik Tahu

Sebarkan artikel ini
Istimewa

KARAWANG – Di sebuah sudut Dusun Cimider, desa Pasir Mulya Kecamatan Telagasari, deru mesin penggiling kedelai dan kepulan uap panas menjadi musik harian bagi warga setempat.

Di sinilah, industri tahu rumahan menjadi napas ekonomi bagi puluhan keluarga, termasuk bagi Marusin (44) dan Supriyat, dua sosok yang menggantungkan hidup dari gurihnya produksi tahu.

Bagi Marusin, aroma kedelai rebus adalah bagian dari identitasnya. Sejak tahun 2013, pria berusia 44 tahun ini telah mendedikasikan tenaga di pabrik tahu ini.

Bukan tanpa alasan ia bertahan; ada dua buah hati yang harus ia nafkahi, terlebih sang istri kini tengah berjuang mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri.

“Kalau ditanya lelah, namanya kerja pasti capek. Tapi di sini sukanya banyak teman dan saudara, bisa saling bercanda. Itu yang bikin lelah jadi hilang,” ujar Marusin saat ditemui di sela aktivitasnya.

Keseharian Marusin dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Jam pulangnya tak tentu, mengikuti ritme produksi.

Dari tetesan keringatnya, ia membawa pulang Rp70.000 hingga Rp80.000 per hari—satu-satunya sumber penghasilan untuk menjaga dapur tetap mengepul.

Senada dengan Marusin, Supriyat, warga asli Cimider lainnya, merasakan dampak positif dari adanya peningkatan permintaan produksi.

Sebagai pekerja sekaligus pengelola UMKM kecil, ia mengakui adanya lonjakan pesanan yang signifikan, terutama dengan adanya program tambahan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Biasanya untuk pengiriman ke pasar pagi itu sekitar 3 kuintal sehari. Tapi kalau ada tambahan pesanan seperti untuk MBG, produksi bisa naik sampai 5 kuintal,” ungkap Supriyat dengan raut wajah syukur.

Peningkatan produksi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi Supriyat yang memiliki tiga anak, tambahan volume kerja berarti tambahan pendapatan bagi keluarganya.

Terlebih, sang istri turut membantu operasional usaha, menjadikannya tumpuan ekonomi keluarga yang solid.

Meski jam kerja seringkali molor hingga larut malam tergantung pesanan, para pekerja di Cimider tetap menyimpan optimisme.

Pendapatan harian yang bervariasi antara Rp70.000 hingga Rp100.000 sangat berarti bagi ekonomi kerakyatan di tingkat desa.

Harapan besar digantungkan pada keberlanjutan program-program yang menyerap produk lokal.

Marusin dan Supriyat sepakat bahwa kehadiran permintaan berskala besar seperti MBG adalah angin segar bagi industri tahu rumahan.

“Saya hanya pekerja, harapannya usaha ini lanjut terus. Kalau pesanan banyak, ekonomi kecil seperti kami sangat terbantu. Semoga ke depan makin bertambah dan berkembang lagi,” pungkas Marusin.

Kisah dari Telagasari ini menjadi potret nyata bagaimana sektor UMKM, jika diberi akses dan permintaan yang stabil, mampu menjadi bantalan ekonomi yang kuat bagi masyarakat perdesaan di Karawang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *