Karawang, Editorial.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digulirkan pemerintah mulai dirasakan dampaknya secara nyata oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Tak hanya soal gizi bagi penerima manfaat, program ini terbukti menjadi mesin penggerak ekonomi bagi para pengrajin lokal, khususnya produsen tahu dan tempe.
Hj. Siti Romlah, salah satu perwakilan pengrajin tahu dan tempe yang berada di Kecamatan Telagasari, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran program ini.
Menurutnya, MBG memberikan lompatan besar bagi geliat pasar dan produktivitas para pengrajin di wilayahnya.
Romlah menceritakan perbedaan signifikan yang dialami para pengrajin sebelum dan sesudah terlibat dalam program MBG.
Jika sebelumnya pasar konvensional hanya mampu menyerap produk dalam jumlah terbatas, kini permintaan melonjak tajam.
“Biasanya kami memasok ke pasar itu paling banyak habis 50 kilogram. Tapi dengan adanya MBG ini, kami menaikkan produksi hingga 3 kuintal setiap hari. Peningkatannya luar biasa,” ujar Siti saat ditemui dilokasi pembuatan tahu di Telagasari pada Sabtu (25/4/2026).
Dampak ekonomi MBG tidak berhenti pada kantong pengusaha saja. Melonjaknya permintaan produksi memaksa para pengrajin untuk menambah tenaga kerja.
Hal ini menjadi solusi konkret bagi warga sekitar yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.
Romlah menjelaskan bahwa setidaknya ada 10 pengrajin tahu dan tempe yang kini terlibat aktif sebagai penyuplai utama program MBG.
Keterlibatan ini pun menciptakan lapangan kerja baru, baik di sisi produksi tahu-tempe maupun di bagian dapur pengolahan MBG itu sendiri.
1.Penyerapan Tenaga Kerja: Mengurangi angka pengangguran lokal dengan memberdayakan pemuda dan warga yang tidak bekerja.
2.Pemerataan Ekonomi: Melibatkan berbagai pengusaha kecil agar manfaat ekonomi tidak berpusat pada satu titik saja.
3.Peningkatan Kesejahteraan: Membantu stabilitas ekonomi keluarga di lingkungan sekitar tempat produksi.
Meski merasakan manfaat yang besar, Siti Romlah tetap memberikan catatan kritis yang membangun.
Ia menyadari bahwa setiap program besar pasti memiliki celah yang perlu diperbaiki di masa mendatang.
“Tentu setiap program ada kekurangannya, ke depan harapannya bisa terus diperbaiki. Kami sangat berharap program MBG ini terus berlanjut karena manfaatnya nyata bagi masyarakat, terutama dalam membantu perekonomian dan mengurangi pengangguran,” tambahnya.
Melalui program ini, tahu dan tempe yang merupakan panganan rakyat kini naik kelas menjadi motor penggerak ekonomi akar rumput.
Harapannya, sinergi antara pemerintah dan pengrajin lokal dapat terus terjaga demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan mandiri secara ekonomi. ( redaksi)










