Karawang, Editorial.co.id – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke 80, semangat nasionalisme mengalir kuat di berbagai lapisan masyarakat.
Di Karawang, tiga saudara dengan peran berbeda, yaitu Dedeh Hasanah (ibu rumah tangga), Saidah (pendidik), dan Futry Rizkiani (pelajar), membagikan pandangan mereka yang menyentuh tentang arti mengindonesiakan Indonesia.
Kisah mereka menunjukkan bahwa cinta tanah air tidak harus melalui hal-hal besar, tetapi bisa dimulai dari peran masing-masing.
Bagi Dedeh Hasanah, seorang ibu rumah tangga, fondasi kebangsaan dimulai dari keluarga. Setiap hari, ia menanamkan nilai-nilai luhur bangsa kepada anak-anaknya.
Dedeh mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, serta mengenalkan budaya dan pahlawan bangsa.
Ia juga melatih anak-anaknya berempati dan bergotong royong melalui kepedulian terhadap tetangga.
“Dengan cara sederhana ini, saya berharap anak-anak tumbuh dengan jiwa nasionalisme yang kuat,” ungkap Dedeh saat dihubungi pada Sabtu (8/8/2025).
Sementara itu, Saidah Hasanah adik dari Dedeh Hasanah, sebagai pendidik di MI Bani Alwan, menjadikan ruang kelas sebagai tempat menumbuhkan jiwa patriotisme.
Ia memulai setiap hari dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menyelipkan cerita pahlawan di sela pelajaran.
Saidah juga menggunakan beragam media untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
“Saya ingin mereka tahu bahwa perbedaan itu anugerah yang harus dijaga,” jelasnya.
Melalui metode ini, Saidah mendidik siswa agar memiliki sikap toleransi dan semangat gotong royong. Dalam penerapan metode pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan kecintaan siswa terhadap bahasa Indonesia.
Semangat yang sama juga terpancar dari si bungsu Futry Rizkiani, seorang siswi kelas 3 di SMPN 1 Karawang Timur.
Menurutnya, menjadi pelajar yang bertanggung jawab dan berprestasi adalah wujud nyata cinta tanah air.
Ia bertekad untuk giat belajar agar ilmunya bisa bermanfaat bagi bangsa. Futry juga aktif dalam kegiatan sekolah yang mempererat persatuan, seperti kerja bakti dan lomba Agustusan.
“Cinta tanah air tidak hanya diucapkan, tapi harus dibuktikan dengan tindakan,” tegas Futry.
Kisah dari ketiga saudara ini membuktikan bahwa peran sederhana dan tulus dari setiap individu, apapun statusnya, sangat berarti dalam membangun bangsa.
Semangat mereka menjadi pengingat bahwa mengindonesiakan Indonesia adalah tugas kolektif yang bisa dimulai dari diri sendiri, dari rumah, sekolah, hingga masyarakat.












