Editorial.co.id,- Momen saling memaafkan seharusnya menjadi lembaran baru yang bersih. Hati yang tadinya mungkin menyimpan ganjalan, diharapkan kembali lapang dan damai.
Namun, ironisnya, tak jarang setelah ritual indah ini, lisan kembali menjadi sumber luka. Belum semenit usai berjabat tangan dan mengucapkan maaf, pertanyaan-pertanyaan sensitif terlontar, seolah tak mempedulikan betapa rapuhnya hati seseorang.
Pertanyaan-pertanyaan seperti:
* “Udah nikah belum punya anak ya?”
* “Kapan nikah?”
* “Kok masih ngontrak?”
* “Anaknya kok kurus, nggak diurus ya?”
* “Badan kamu kok kurus/gemuk banget?”
* “Belum hamil juga ya, padahal udah lama nikah lho?”
…dan sederet pertanyaan serupa, bagaikan duri yang kembali menusuk hati yang baru saja mencoba menyembuhkan diri.
Kita mungkin bertanya dengan dalih basa-basi atau sekadar ingin tahu, namun kita seringkali lupa bahwa di balik jawaban singkat itu, tersembunyi perjuangan, kesedihan, atau bahkan rasa sakit yang mendalam.
Mengapa pertanyaan-pertanyaan ini begitu menyakitkan? Karena menyentuh ranah pribadi yang sangat sensitif.
Urusan pernikahan, keturunan, kondisi ekonomi, dan fisik adalah hal yang sangat personal. Setiap individu memiliki perjalanan dan ujiannya masing-masing.
Membandingkan, menghakimi, atau bahkan sekadar bertanya tanpa empati, bisa memperburuk keadaan emosional seseorang.
Kunci utama dalam berinteraksi adalah empati. Cobalah tempatkan diri kita pada posisi orang lain. Bayangkan jika pertanyaan serupa ditujukan kepada kita.
Bagaimana perasaan kita? Apakah kita akan merasa nyaman, atau justru tertekan dan terluka?
Setelah momen saling memaafkan, mari kita fokus pada hal-hal yang lebih positif.
Pererat tali silaturahmi, berbagi cerita yang ringan dan menyenangkan, serta hindari topik-topik yang berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman.
Belajarlah dari esensi maaf itu sendiri: membersihkan diri dari kesalahan dan memulai dengan hati yang lebih baik.
Jangan kotori kembali kebaikan ini dengan ucapan yang tidak bijak.
Ingatlah, lisan adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi sumber kebaikan dan kebahagiaan, namun juga bisa menjadi penyebab luka yang mendalam.
Setelah kita saling memaafkan, mari jaga lisan kita baik-baik. Pikirkan dampaknya sebelum berucap.
Timbanglah apakah pertanyaan kita benar-benar perlu dan apakah akan membawa kebaikan atau justru sebaliknya.
Sebagaimana yang diingatkan oleh fikihmuslimah & sister catatan:
“Ya Allah ini baru aja kita maaf-maafan loh, jangan nambah dosa baru lagi, kita tak tahu bagaimana keadaan hatinya setelah ditanya seperti itu.. hati-hatilah dalam berbicara..”
والله أعلمُ بالـصـواب
بارك الله فينا واياكم اجمعين
─• Rumαh`Hijrαh
Semoga kita semua senantiasa diberi kemampuan untuk menjaga lisan dan menghormati hati sesama.












