Berita

Diduga Ditarik Petugas Keamanan, Tangan Keluarga Pasien RSUD Karawang Tergores hingga Terluka

×

Diduga Ditarik Petugas Keamanan, Tangan Keluarga Pasien RSUD Karawang Tergores hingga Terluka

Sebarkan artikel ini
Tangan Sony luka tergores (kiri), kemanan RSUD Karawang Toto (kanan).

KARAWANG-Insiden yang diduga melibatkan petugas keamanan dengan keluarga pasien di RSUD Karawang menjadi sorotan. Pasalnya, seorang keluarga pasien, Sony Adiputra, S.H., dikabarkan mengalami luka gores pada bagian tangan yang diduga akibat tarikan petugas keamanan.

Sony yang merupakan anggota Perhimpunan Advokat Karawang (Peradi) Karawang yang berkantor di Kantor Hukum Asep Agustian, S.H, M.H., mengaku mengalami penarikan tangan sebanyak dua kali setelah terlibat adu argumen dengan petugas keamanan terkait teguran larangan merokok. Perselisihan tersebut bahkan disebut meninggalkan luka gores atau sayatan pada bagian tangannya.

Peristiwa itu, berdasarkan keterangan Sony, terjadi sekitar pukul 20.00 WIB ketika dirinya berada di RSUD Karawang untuk menjenguk sekaligus mendampingi orang tuanya yang tengah menjalani perawatan.

Sony menceritakan,iInsiden bermula saat Sony berbincang dengan sejumlah anggota keluarga di area luar ruang rawat inap, tepatnya di jalan depan kamar jenazah. Di tengah pembicaraan, ia mengeluarkan rokok dari sakunya. Namun, rokok tersebut belum sempat dinyalakan ketika seorang petugas keamanan datang menegur dan melarangnya merokok di lokasi itu.

Teguran tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan. Sony mempertanyakan dasar larangan merokok di area yang menurutnya merupakan ruang terbuka di luar gedung rumah sakit. Ia mengaku tidak keberatan apabila memang terdapat aturan yang mengatur larangan tersebut, tetapi meminta petugas menunjukkan ketentuannya.

“Saya bilang, ini kan di luar, Pak. Kalau saya merokok di dalam ruangan, wajar kalau ditegur. Tapi kalau memang ada aturan larangan merokok di sini, silakan tunjukkan. Saya juga melihat tidak ada papan larangan di depan saya,” tutur Sony, Selasa (2/11/2026) malam.

Menurut pengakuannya, situasi semakin memanas setelah petugas keamanan mengambil foto dirinya. Sony kemudian melakukan hal serupa dengan memotret petugas yang bersangkutan.

Perselisihan belum berakhir. Petugas tersebut disebut meminta Sony mengikutinya menuju pos komandan keamanan. Namun, permintaan itu ditolak. Sony justru meminta agar komandan keamanan datang menemuinya karena merasa tidak memiliki keperluan untuk mengikuti petugas tersebut.

“Saya sedang membicarakan kondisi orang tua yang sakit bersama keluarga. Rokok juga belum sempat saya nyalakan. Tiba-tiba ditegur, kemudian difoto. Saya merasa cara seperti itu tidak menyenangkan,” ungkapnya.

Sony menilai persoalan yang awalnya hanya berupa teguran seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik. Terlebih, saat kejadian berlangsung, dirinya sedang membicarakan kondisi orang tuanya bersama keluarga.

Sony Mengaku Mengalami Penarikan Tangan Dua Kali

Sony selanjutnya mengungkapkan dugaan tindakan fisik yang dialaminya. Ia mengaku tangannya ditarik petugas keamanan sebanyak dua kali agar bersedia mengikuti petugas menuju pos komando.

Ia menyebut sejumlah anggota keluarganya menyaksikan langsung kejadian tersebut. Beberapa pengunjung rumah sakit yang berada di sekitar lokasi juga diklaim melihat perselisihan itu.

Selain itu, Sony menyampaikan bahwa sekitar empat hingga lima orang berpakaian safari, yang diduga merupakan petugas atau komandan keamanan, berada tidak jauh dari tempat kejadian. Mereka disebut menyaksikan situasi dari jarak sekitar tujuh hingga sepuluh meter.

Setelah ketegangan mereda dan petugas meninggalkan lokasi, Sony mengaku merasakan perih pada bagian tangannya. Saat diperiksa, ia menemukan luka yang tampak seperti goresan atau sayatan.

Merasa keberatan dengan kejadian tersebut, Sony kemudian menghubungi seseorang untuk menyampaikan kronologi yang dialaminya. Tidak berselang lama, sejumlah rekannya datang ke RSUD Karawang dan berupaya meminta penjelasan kepada pihak keamanan melalui pos komando.

Namun, menurut keterangan Sony, petugas keamanan yang dipersoalkan membantah telah menarik tangannya maupun melakukan tindakan yang menyebabkan luka.

“Dia bilang tidak merasa melukai dan tidak merasa menarik tangan saya. Padahal keluarga saya melihat langsung kejadian itu. Ada juga orang yang sedang berkunjung di rumah sakit yang menyaksikan,” jelas Sony.

Respons Petugas Dipersoalkan, Sony Sebut Diminta Visum

Persoalan kemudian berlanjut ketika Sony dan rekan-rekannya berupaya membicarakan kejadian tersebut di pos keamanan. Ia mengaku menyayangkan respons yang diterimanya karena petugas disebut mempersilakannya menempuh jalur hukum apabila merasa dirugikan.

“Ya sudah, visum saja,” demikian pernyataan yang menurut Sony disampaikan petugas saat perdebatan berlangsung.

Bagi Sony, persoalan ini bukan semata-mata menyangkut teguran larangan merokok. Ia mempertanyakan cara petugas menjalankan tugas ketika menghadapi pengunjung rumah sakit yang sedang mendampingi anggota keluarganya menjalani perawatan.

Sony menegaskan bahwa kedatangannya ke RSUD Karawang bukan untuk mencari keributan. Tujuannya saat itu adalah menjenguk dan mendampingi orang tuanya yang sedang sakit.

Ia juga meminta agar dugaan penarikan tangan dan luka yang dialaminya tidak berhenti pada perdebatan antara dirinya dengan petugas keamanan. Menurutnya, kejadian tersebut perlu ditelusuri agar penyebab dan kronologi sebenarnya dapat diketahui.

Security RSUD Karawang Berikan Versi Berbeda

Sementara itu, Toto, petugas keamanan (security) RSUD Karawang, memberikan penjelasan berbeda mengenai insiden tersebut.

Toto menyebut kejadian bermula ketika dirinya menegur Sony agar tidak merokok di area tersebut. Ia mengaku bahkan telah mengarahkan Sony untuk merokok di lokasi lain, tepatnya di dekat tembok kantin.

“Pak, jangan merokok ya. Di sana saja merokoknya, dekat tembok kantin, terus bertanya mana aturannya,” jelas Toto saat menerangkan awal mula kejadian.

Menurut Toto, pihak Sony bersikap ngeyel dan menolak berpindah dari lokasi tersebut. Perdebatan kemudian berlanjut setelah dirinya berupaya mengarahkan Sony agar menyelesaikan persoalan melalui komandan security.

Toto mengaku telah mengajak Sony untuk bertemu komandan keamanan guna membicarakan permasalahan tersebut. Namun, menurut keterangannya, Sony enggan mengikuti ajakan itu.

Terkait tudingan penarikan tangan, Toto secara tegas membantah melakukan penarikan paksa maupun penganiayaan yang mengakibatkan luka pada tangan Sony.

Toto Persilakan Sony Tempuh Visum

Mengenai pengakuan Sony yang menemukan luka gores pada tangannya, Toto menyatakan tidak merasa melakukan tindakan yang menyebabkan luka tersebut.

Bahkan, Toto mengaku mempersilakan Sony membuktikan dugaan tersebut melalui pemeriksaan medis atau visum.

“Visum aja, Pak. Deket ini, di belakang,” demikian pernyataan yang menurut Toto disampaikannya saat perselisihan berlangsung.

Pernyataan tersebut semakin memperlihatkan adanya perbedaan keterangan antara kedua pihak. Sony mengaku mengalami penarikan tangan sebanyak dua kali, sementara Toto membantah melakukan tindakan fisik yang menyebabkan luka.

Manajemen RSUD Karawang Diminta Turun Tangan

Perbedaan keterangan tersebut menjadi alasan penting bagi manajemen RSUD Karawang untuk melakukan penelusuran secara objektif.

Pemeriksaan terhadap petugas yang berjaga, permintaan keterangan saksi-saksi di lokasi, serta penelusuran rekaman kamera pengawas atau CCTV apabila tersedia dinilai dapat membantu mengungkap kronologi sebenarnya.

Di sisi lain, penerapan aturan larangan merokok di lingkungan rumah sakit merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan dan kenyamanan pasien, pengunjung, serta tenaga medis.

Namun, pelaksanaan aturan tersebut juga perlu dibarengi pendekatan komunikasi yang santun dan profesional, sehingga teguran kepada pengunjung tidak berkembang menjadi perselisihan.

Sony berharap manajemen RSUD Karawang tidak mengabaikan persoalan tersebut dan dapat memberikan penjelasan secara terbuka. (red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *